"Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia."
Matius 4:19
Pernahkah kamu merasa hidup berjalan begitu saja, seperti roda yang terus berputar dan berulang begitu saja? Bangun pagi, bekerja, mengejar target, lalu kembali beristirahat dan semuanya terulang lagi esok hari. Tanpa disadari, kita bisa terjebak dalam rutinitas yang membuat kita menjadi lelah, seperti menjalani kehidupan yang tidak lagi bermakna.
Kisah dalam Matius 4:19-20 membawa kita pada situasi yang sangat berbeda. Yesus berkata, “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Ajakan ini bukan sekadar perpindahan aktivitas, melainkan perubahan tujuan hidup.
Bayangkan posisi Simon Petrus dan Andreas saat itu. Mereka sedang bekerja, melakukan hal yang sangat mereka kuasai. Tidak ada yang salah dengan pekerjaan mereka. Namun ketika Yesus memanggil, mereka memilih untuk merespons dengan segera. Kata “segera” ini sangat kuat. Tidak ada tawar-menawar, tidak ada penundaan.
Bagaimana dengan kita hari ini? Sering kali kita tahu Tuhan memanggil kita untuk hidup lebih bermakna, tetapi kita menunda. Kita merasa belum siap, terlalu sibuk, atau takut kehilangan kenyamanan. Padahal, mengikuti Tuhan bukan tentang kehilangan, melainkan menemukan sesuatu yang jauh lebih besar.
Meninggalkan “jala” kita bukan berarti harus berhenti dari pekerjaan atau tanggung jawab. Yang berubah adalah arah hati kita. Kita tidak lagi hidup hanya untuk diri sendiri, tetapi mulai melihat bahwa hidup kita bisa menjadi berkat bagi orang lain.
Kamu tidak perlu menunggu momen besar untuk memulai. Justru di tempat kamu berada sekarang, di kantor, di rumah, di sekolah itulah “perahu” kamu. Di situlah Tuhan ingin memakai hidup kamu.
Luangkan 10 menit untuk berdoa dan bertanya kepada Tuhan, “Apa satu hal kecil yang bisa aku lakukan hari ini untuk menjadi berkat bagi orang lain?” Lalu lakukan itu tanpa menunda, entah itu menguatkan teman, membantu rekan kerja, atau sekadar mendengarkan seseorang dengan tulus.
Mungkin hari ini Tuhan sedang mengundang kamu, sama seperti Ia memanggil para murid dahulu. Pertanyaannya bukan apakah kamu mampu, tetapi apakah kamu mau merespon undangan-Nya?
Percayalah, saat Tuhan memanggil, Ia juga yang akan memampukan. Dan ketika kamu berani keluar dari lingkaran rutinitas, kamu akan menemukan bahwa hidup kamu memiliki tujuan yang jauh lebih bermakna untuk menjala manusia.